Pendahuluan
MELIHAT-KEMUKA! selayaknya sebagai media yang mengemukakan diri dengan tegas menyokong Marhaenisme, gagasan yang pertama kali diformulasikan oleh Bung Karno pada periode 1930-1933, sebagai arsenal teoretik dalam menjemput revolusi sosialis di Indonesia (membangun Sosialisme a la Indonesia), menekankan bahwa tanpa peninjauan kembali atas relevansi Marhaenisme untuk perjuangan kini, ia akan tetap menjadi bercak-bercak ide dari masa-lampau. Hanya melalui penelitian ulang atas kondisi/realitas yang ada, secara sosio-historis, maka benar tidaknya “masih adakah marhaen di negeri ini?” hanya terus-menerus menjadi pertanyaan retoris.
Maka, dengan tegas, dalam mewujudkan revitalisasi Marhaenisme juga membutuhkan penegasan posisi diantara berbagai kalangan yang mendaku “penyokong Marhaenisme” pula. Oleh karena itu, dipilihlah term Marhaenisme ‘Revolusioner’ sebagai cara pemilahan diri.
Telah disampaikan terdahulu tadi, bahwa Marhaenisme yang sesuai zamannya, yang relevan, hanya mungkin ketika kita menerapkan metode yang sejiwa dengan yang dilakukan Sukarno dalam membaca kenyataan rakyat Indonesia hari ini. Dengan demikian, pemilahan melalui pemosisian Marhaenisme ‘Revolusioner’ kemudian bukan sekadar pemberian penanda baru bagi diri sendiri.
Dalam teks dalam genggaman pembaca inilah, kemudian, apa yang dimaksudkan dengan Marhaenisme ‘Revolusioner’ hendak diurai. Bagian pertama akan menyangkut suatu pembacaan kembali kondisi hari ini demi menyusun perangkat gagasan untuk perjuangan. Bagian kedua akan membahas pembongkaran dan pengukuhan kembali landasan Azas untuk Marhaenisme. Bagian ketiga akan membahas Azas-perjuangan untuk masa kini. Dan, Bagian keempat adalah bab tentang pembacaan atas berbagai tendensi politik yang ada di lapangan pertempurang kelas Indonesia sekarang. Dan, Bagian akhir adalah pendiskusian tentang Strategi dan Taktik tahap pertama pembangunan kekuatan massa penyokong Marhaenisme ‘Revolusioner’ —sebab, jika hanya klarifikasi dan reformulasi teoretis yang dilakukan, bercak-bercak ide hendak hanya menemukan ruh untuk bergentayangan (sementara pertemuan dengan ‘tubuhnya’ merupakan satu perjuangan dalam dirinya sendiri).