Sukarno, dalam Indonesia Menggugat, menerangkan–dengan suatu semangat api kemerdekaan, bahwa: dalam tangisnya, rakyat, mencari-cari, mengais-ngais, harapan, pertolongan, dari semacam kekuatan yang bersemayam lepas dari kebatian mereka sendiri. (Keputusasaan telah tertikam dalam jiwa rakyat, bagi mereka ketakberdayaan sendiri adalah keputusan tetap Semesta/Tuhan.) Sambung bung Karno dalam penerangannya: maka “atu adil” adalah lahir dari kesengsaraan itu adanya.
Sehingga, dengan merasakan jiwa, yang tersampaikan dalam pleido-nya itu, bahwa, rakyat kehilangan jati-dirinya; rakyat mencari-cari kejiwaan yang tidak hadir. Maka, kita ketahui dengan terang ketika bung Karno menyatakan bahwa rakyat akan menyadari kesengsaraannya, dengan sebenar-benarnya kesengsaraan itu adanya.
Oleh karena itu, akan ditemui lah jiwa rakyat itu dalam rakyat yang sadar, bergerak-berlawan, kepada imperialisme yang menjadi nasib buruk rakyat itu sendiri.
Oleh karena itu pula, rakyat yang bersatu-berlawan dalam kesadaran akan kesengsaraan yang ditimpa kepada mereka oleh imperialisme. Akan menjadi landasan dari harapan yang nyata senyata-nyatanya mengenai gugatannya—suatu gugatan, yang menantang kuasa zalim, untuk mencapai kemerdekaan itu sendiri!
Namun, naa’s menimp. Arus balik kezaliman menjungkir-balikkan kuasa rakyat pada tahun 65. Oleh sebab-sebab itu, rakyat tidak hanya kembali hilang jiwanya—namun, direnggut-dicekoki, oleh suatu jiwa asing, oleh suatu kuasa zalim yang menghamba-menurut pada kuasa asing melalui kapital yang sengaja dialirkan. Berat adanya ketika kesadaran sampai melihat bahwa, Bank Dunia (World bank) dan Pendanaan Moneter Internasional (International Monetary Fund), memberi rakyat yang bernafas pasca-65, suatu resep yang merubah-mengatur dapur mereka sendiri.
Belum lagi ketika kanvas sejarah kita, penuh dan sesak akan “penghilangan-pembunuhan”, “pembelokkan-penghasutan”, terhadap seluruh tenaga maupun suara yang menentang ‘daya-asing’ yang “merenggut-mencekoki” jiwa rakyat itu sendiri.
Dewasa kini, mungkin saja—dan bahkan bisa dikata memang telah kejadiannya, nafas-nafas yang kita temui, adalah suatu cangkang kosong yang sedih jiwanya karena terputus dari jati dirinya itu sendiri! Suatu jati diri, adalah jati diri yang sadar akan kesengsaraan, dan sadar akan siapa-siapa saja yang menimpuki mereka sehingga sengsara.
Oleh karena itu, zaman kita sekarang, bukan lagi zaman mencari “Ratu Adil”, namun, zaman mengingat-membangun kembali jati diri kita! Suatu jati diri yang tidak hanya ingat akan sejarah perlawanan pendahulu kita, namun, adalah sejarah perlawanan seluruh jiwa-jiwa yang satu nasib—jiwa yang tertindas di seluruh dunia itu sendiri!
Ingatlah semangat dasasila Bandung, itu lah salah satu dari sekian banyak bukti, bahwa bangsa kita, dan bangsa-bangsa yang sadar lainnya, telah bersatu-berlawan, dua tenaga yang ingin dan bahkan akan merenggut jiwa rakyat yang sadar akan kesengsaraannya yang khusus dan pribadi itu! Suatu kesengsaraan yang menentang keras dunia yang timpang-kuasa, muram, dan tentunya menghina jiwa kita, jiwa rakyat Indonesia, yang tak bisa dipukul rata oleh kesimpulan kesadaran yang nasibnya berbeda dari manapun itu!
Terang bahwa, kesadaran akan tenaga imperialis yang merenggut-mencekoki, adalah kesadaran yang menggugat secara bergotong-royong, tenaga-tenaga imperialis itu adanya! Dengan begitu juga terang bahwa, kelangsungan dari kegotong-royongan kita rakyat Indonesia, yang barang tentu akan bergejolak-berbenturan dengan segala upaya-upaya imperialis di muka bumi ini, adalah “Ratu Adil” Yang sedang bernafas. Nafas dari “Ratu Adil” Tersebut hidup dalam kegotong-royongan rakyat itu sendiri, “Ratu Adil” Itu kembali bernafas ketika kita memutuskan untuk mengingat-membangun kembali jati diri bangsa kita. Jati diri bangsa Indonesia, yang merupakan jiwa bangsa yang sejatinya adalah raksasa di muka bumi ini!
Tarikan Dalam dan Hembusan Nafas Sang “Ratu Adil”
Jika kemudian dalam mengingat-membangun kembali jati diri bangsa Indonesia yang sejati, dialami-ditemukan bahwa keseharian sangat bergejolak-berbenturan, maka, sejatinya dalam tiap-tiap nuansa gejolak-benturan yang ada-berkembang itu, adalah suatu kelangsungan yang tidak mau tidak harus diterima. Mengapa? Karena memang itulah sang “Ratu Adil” Yang sedang menarik nafas dan menghembuskannya dengan penuh kehidupan-pergaulan.
Namun, ada satu syarat agar sang “Ratu Adil” terus menyambung tarikan dan hembusan nafasnya, yakni adalah bahwa, jangan sampai tercapainya justru suatu perpatahan-perputusan dari kelangsungan nafas sang “Ratu Adil” yang sedang hidup sehidup-hidupnya dalam kelangsungan gotong-royong rakyat yang sadar dan bergerak-berlawan kepada tenaga imperialis! Dengan kata lain, meminjam cara pikir bung Karno, adalah karamnya kapal persatuan kita itu sendiri.
Oleh karena itu, patut sepatut-patutnya kita kembali pada sumber-sumber intelektual bung Karno itu sendiri, agar kemudian kita tidak hanya dapat merasakan kezaliman. Namun, mengetahui-menyadari tenaga serta hal-hal lainnya yang berdiri tegak melangsungkan kezaliman yang sama-sama kita hadapi itu. Tentu, terang tersampaikan bahwa, kita yang merasa terzalimi, perlu belajar-berpikir untuk mampu melihat sebab-sebab kezaliman itu.
Dari situ dapat kita sadari bahwa, suatu kapal yang karam dan tidak didorong kembali secara bersama-sama suatu upaya sadar untuk diperbaiki-dilampauinya kondisi tersebut. Justru menjadi bukti bahwa tenaga dan kesadaran yang hilang ingatan akan sejarah perjuangan bangsa dalam suatu nasib yang sama, itu betul terjadinya!
Oleh karena itu, sangat dekatlah kita dengan kesengsaraan dan kenyataan pergaulan hidup bersama jika kita menerima segala gejolak-benturan dalam nasib rakyat sepenanggungan. Namun dalam nuansa yang terus bergerak-berlanjut, adalah hilang ingatan jika kita justru merawat perpatahan-perputusan yang satu dan lain halnya disebabkan oleh gejolak-benturan yang ada.
Jika merawat kapal persatuan saja kita belum mampu, maka tertawalah para imperialis di luar sana. Pun dalam persatuan, bukan lah suatu persatuan seragam yang mati nuansa dan hilang tarikan dan hembusan nafas “Ratu Adil” itu, namun telah disampaikan secara terang dimuka, adalah suatu persatuan yang bergejolak-berbenturan, yang bergerak-berkembang, dilandasi belajar-berpikir dan berlawan kepada imperialis! Ingat! Imperialis sedang menimpuki kita menuju nasib yang akan semakin jatuh-tenggelam dalam kesengsaraan yang semakin-makin menjadi mungkin itu sendiri.
---
El-Dauphin